Baksos-an Bareng BC Peduli

Akhir April kemarin saya diajak Topik  untuk ikut kegiatan organisasinya. Organisasi ini bermula dari  ngumpul-ngumpul perantau asal salah satu SMA di Karanganyar. Dari ajang ngumpul-ngumpul, munculah ide, bagaimana caranya membuat ajang silaturahmi ini menjadi kontributif bagi masyarakat. Program-program pun digulirkan mulai dari santunan anak yatim, pemberian bantuan korban bencana alam, dan bakti sosial.

Agenda bakti sosialpun digelar di salah satu kawasan bantaran rel di Jakarta. Kali ini ada beberapa kegiatan sekaligus: layanan pengobatan gratis, penyuluhan pangan dan games edukasi untuk adek-adek di rumah singgah yang insyaAllah akan saya ceritakan lebih lanjut. Sebelumnya, mari kita lihat kondisi sosial masyarakat di sana.

 

Image

Image

 

Image

Sudah terbayang? Jalanan menuju kesana berupa gang-gang kecil yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau bisa dilewati motor satu arah. Penduduk di sini menempati rumah-rumah yang pada umumnya kurang layak. Sebagian berdinding papan dan beratap seng. Bayangkan dengan kondisi Jakarta menjelang kemarau saat ini, seberapa panasnya bagi kita tinggal di rumah dengan kondisi seperti ini? Dan lagi, seberapa aman anak-anak   jika mereka bermain di samping rel kereta api?

Mata pencaharian penduduk beragam, dari pengamen, buruh pasarg, pedagang asongan hingga pemulung.

Image

—–

Image

Bu, boleh saya foto ya?“, saya bertanya ke si mbah  sepuh yang saya temui ketika beliau mengantri berobat. Saya mendapatkan foto di atas setelah mendapat izin dari beliau. Kami ngobrol tentang aktivitasnya. Tiap hari, dari jam 7 pagi hingga 3 sore, si mbah ini masih ‘mengangkut’ — cara beliau untuk mengistilahkan kegiatan mengumpulkan sampah yang bisa didaur ulang, atau memulung– dari penjuru Jakarta. Beliau sambil senyum-senyum bercerita kepada saya, tentang mengapa hari Minggu adalah hari favoritnya. Di hari minggu, beliau akan ke bundaran HI karena akan banyak sampah yang bisa beliau angkut hari itu. Sesekali, ia akan menemui “Bu Haji” untuk mengambil sekumpulan sampah daur ulang di rumah Bu Haji ini. “Tapi Bu Haji saya ganti uang nggak mau“.

Bagaimana si mbah bisa sampai di bantaran rel tanah abang? “Saya lari ke sini sejak tahun enam puluhan, dek” .  Beliau asli Probolinggo, tapi logat Jawa-nya sudah tidak lagi terbaca. Beliau cerita panjang lebar, hanya mungkin kurang patut jika saya ceritakan di sini. Intinya, ada sebuah episode yang dialami tiap penduduk sini, dan episode inilah menjadi sebuah titik balik. Titik balik yang menjadikan hidup di lingkungan seperti ini menjadi pilihan terbaik yang mereka tahu.

Si mbah ini bilang kepada saya bahwa belakangan ini beliau susah tidur. Bagian perut atasnya terasa nyeri. Hari itu beliau senang karena ada pengobatan gratis oleh panitia baksos. Mudah-mudahan ikhtiarnya untuk sembuh bisa dijembatani oleh relawan. Ada rekan-rekan dari UIN Syarif Hidayatullah dan beberapa dokter yang alhamdulillah bisa bergabung, lengkap dengan obatnya!

Image

Ngantri berobat

Lokasi pengobatan dilaksanakan di sebuah rumah singgah. Rumah singgah ini berupa sebuah bangunan kecil di pinggir rel kereta. Rumah singgah ini sering dijadikan sebagai tempat kegiatan masyarakat di sana seperti pengajian, hajatan dan tempat belajar rutin bagi anak-anak warga di sini untuk mengaji.

Rumah singgah di sini memfasilitasi anak-anak yang ingin belajar mengaji di sana. Usia mereka rata-rata usia SD, mencapai 105 anak. Kebanyakan sudah sekolah formal, namun ada juga beberapa yang tidak sekolah karena terkendala birokrasi (misalnya, tidak memiliki akta kelahiran). Ada tiga ibu guru yang mengajar di sana.

14022963946_10977b0a33_b

Bu Tri, salah satu guru mengaji di sana bilang, “Sebenarnya kami masih kekurangan pengajar mas“.

Sifat kegiatan di rumah singgah ini informal, sementara baru belajar mengaji, namun berharap ibu guru dan anak-anak di sini suatu saat bisa belajar komputer. (*Pesan sponsor: Saya, Topik, dan Mizan sedang mengajukan proposal untuk pembuatan modul & perangkat belajar komputer rendah daya. Penilaian salah satunya menggunakan seberapa banyak share di FB dan Twitter. Jadi yang bisa bantu, mohon di-share halaman ini di Twit / FB-nya yah 😉 )

Pagi itu, cuaca panas menjelang hujan, namun adek-adeknya Alhamdulillah semangat ikut games-nya.

Image

 

Image

Adek, gede mau jadi apa?“, tanya seorang panitia. “Dokter!“, Yang lain lagi menjawab: “Tentara!“. Seorang panitia  balik nanya, “Kenapa mau jadi tentara?”…. “UNTUK MELINDUNGI NEGARAAAA!!!” jawab si adek. Tepuk tangan pun riuh menyaksikan semangat adek-adek ini. Bisa jadi, dari sini Tuhan akan menjadikan mereka menjadi sosok-sosok besar. Habibie-Habibie baru, atau Risma-Risma baru (You name it!) bisa jadi muncul dari mana saja, termasuk dari sini, jika Tuhan menghendaki.

Berada di lingkungan seperti ini membuat saya merasa bersyukur. Sejenak melupakan masalah-masalah pribadi yang mungkin ada. Mensyukuri nikmat kesempatan yang telah diberikan-Nya atas kita.  Seperti kata mas Arief,  salah satu panitia, “Selepas balik dari sini, kamar kos yang sempit terasa  leluasa, mas“. We’re not born with the same chance. Jangan-jangan dengan itu, ada pesan Tuhan untuk berbagi tenaga, berbagi semangat, berbagi inspirasi, berbagi gembira bagi mereka yang memiliki keterbatasan. Sejenak biar kakak-kakak di sini menjadi bintang bagi mereka. Mungkin sementara adek-adek disini menjadi rembulan, yang memantulkan cahaya semangat perbaikan diri dari kakak-kakak di sini walau kebersamaan ini hanya sejenak. Suatu saat, merekalah bintangnya!

Berada di lingkungan seperti ini membuat saya merasa optimis. Kita terbiasa melihat berita-berita ekstrim dan negatif di media. Itu karena sesuatu yang negatif dan ekstrim di media, laku. Kita mulai mengutuk kondisi sosial masyarakat, ekonomi, dan tentu saja: politik. Seolah kita tak bisa berharap banyak. Padahal hal-hal kecil positif itu ada dan ada di sekitar kita. Meminjam istilah Anies Baswedan, komunitas seperti BC lebih memilih menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.

Berada di lingkungan seperti ini membuat saya berinteraksi dengan orang-orang se-frekuensi. Ngobrol dengan kenalan yang memiliki visi membuat kita mengevaluasi visi kita dalam hidup. Juga membuat kita terpacu.  Komunitas seperti BC saya rasa memiliki banyak orang seperti ini.

Barangkali, di atas sana, malaikat-malaikat tersenyum melihat rekan-rekan mereka. Rekan-rekan yang berwujud manusia yang sedang bekerja hari itu. Semoga Allah menerima segala kebaikan.

Iklan

Perpindahan dan Kanvas

 Dari tiap-tiap tempat yang kita  singgahi, selalu ada saja sesuatu yang membekas. Di suatu tempat, kita bertemu dengan orang yang kita anggap sulitMau tidak mau kita harus berinteraksi dengan beliau hingga waktu yang cukup lama. Seringkali ingin berhenti di tengah-tengah, namun Tuhan senantiasa memberi kekuatan ekstra sehingga kita bisa menyelesaikan fase demi fase. Keras. Tapi mungkin itulah cara Allah mengabarkan bahwa kita naik kelas. Bonus, jika dengan beliau kita dapat menjaga relasi dan hubungan yang baik.
Di persinggahan lain, kita menemukan karakter-karakter sebaliknya. Kawan-kawan baru dimana kita merasa tenang di dalamnya. Kawan-kawan baru dimana kita bisa menyerap nilai-nilai yang ada, dan tanpa mereka sadari bahwa sebenarnya kita belajar (banyak) dari mereka. Kawan-kawan yang sebenarnya memiliki pengaruh hebat sehingga  terpisah menjadi berat. Ah, betapa terasanya membersamai mereka adalah karunia, justru ketika kita tak lagi bersama mereka.
Di setiap lingkungan, akan selalu kita temukan hal-hal unik. Akan ada perbedaan latar belakang budaya yang membuat kita kesal, namun lambat laun kita menjadi paham dan tak lagi judgmental. Perbedaan akan menjadi pertambahan corak warna, meskipun adakalanya terjadi penolakan atas perbedaan di awal perbedaan itu kita temukan. Akan kita temui sosok-sosok inspiratif yang membuat kita senantiasa terpacu. Akan kita temui hal-hal kecil lucu yang Allah hadirkan sebagai penghibur saat dunia terasa sulit untuk dihadapi.
“Hijrahlah, dan jangan takut dengan apa yang kau tinggalkan, karena kau akan mendapkankan penggantinya, bahkan lebih.” – Imam Al-Ghazali
Karenanya, merantau bagi saya adalah fase penting dalam perjalanan hidup. Layakya memahami suatu bahasa asing, merantau akan membuat kita melihat dengan perspektif yang lebih kaya.
Hampir sebulan ini saya pindah ke persinggahan baru. Saya menganalogikan perpindahan dengan pelukis yang memulai dengan kanvas baru. Putih, kitalah yang akan melukisnya dengan aneka ragam corak warna. Warna-warna kaya yang kita peroleh dari interaksi, pengalaman, kejadian di persinggahan-persinggahan sebelumnya. Warna-warna yang diiringi memori tentang tawa renyah bersama sahabat-sahabat lama. Warna-warna atas hikmah pelajaran yang kita  ambil dari pengalaman sebelumnya. Warna tak terhingga dari kilauan doa-doa yang kita panjatkan, juga  doa doa tulus dari diberikan keluarga, sahabat-sahabat, dan guru-guru kita. Warna cantik yang membekas terpendar dari kita atas didikan dan nasihat lekat yang akan terus kita ingat.

Papan Luncur

Dulu, saya sempat menuliskan bahwa suatu saat saya ingin mencoba salah satu olahraga: Ski. Hingga akhirnya sebulan yang lalu dosen  Bahasa Korea kami menawarkan untuk mengikuti program khusus untuk mahasiswa asing di Alpensia, sebuah resort di Pyeongchang yang merupakan salah satu kota kandidat Winter Olympics 2018. Kemarin, kami mengikuti program tersebut.

Ketika papan ski terpasang di kedua kaki saya, saya susah bergerak karena berjalan dengan sepatu ski terasa berat dan melangkahkan kaki di atas papan ski pada medan miring ternyata  sangat licin. Meskipun seorang pelatih yang telaten telah membimbing kami, saat pertama kali mencoba meluncur di atas kemiringan, kebanyakan dari kami terjatuh. Awalnya, untuk bangun dari jatuh ini cukup sulit.

Saya mengangkat kedua kaki, saya luruskan,  saya tapakkan dan yang terjadi? saya tak bisa mengendalikan gaya gesek dalam papan, dan kembali meluncur tanpa bisa saya kendalikan dalam posisi duduk hingga saya menggesekkan punggung di atas salju. Ada nyeri yang tak bisa saya tahan di pergelangan kaki saat saya mencoba meluncur dengan posisi duduk. Akhirnya, saya berhenti dan melepas peralatan ski di kaki saya karena tak mampu berdiri di atas kemiringan. Saya berjalan kembali menuju dasar dan mengangkat sepasang papan dengan kedua tangan saya.

Meskipun lintasan masih yang kami lalui paling landai, ada beberapa mahasiswa yang mengalami cedera. Memang sangat beralasan mengapa kami harus membayar asuransi sebesar 20.000 KRW sebelum melakukan olahraga ini. Seorang mahasiswa Turki dikabarkan tangannya patah. Teman kami, Sara, mengalami joint displacement di lututnya. Dieky  juga mengalami cedera di jempol tangan setelah jatuh karena tak bisa mengendalikan kecepatan luncur. Insiden ini membuat kelompok kami sempat di-ban untuk kembali bermain.  Ketika kemudian larangan untuk kelompok kami dicabut dengan syarat diawasi oleh seorang pelatih, kami kembali mencoba meluncur.  Takut? Ya. Namun melihat semangat teman-teman lain untuk terus mencoba, saya kembali terpacu dan ikut menaiki cable car dan meluncur dari atas medan. Lagipula seorang teman kami, Yodha, telah bisa meluncur dengan kendali penuh. Si pelatih-telaten mendampingi kami meluncur ke bawah dengan lebih hati-hati.

Selanjutnya saya mencoba meluncur sendiri. Berkali-kali saya jatuh saat meluncur. Namun, saat itu, saya perhatikan bahwa saya telah mampu bangkit dengan jauh lebih mudah  di atas kemiringan medan. Saya kembali meluncur dan jatuh, berdiri lagi, demikian seterusnya. Hingga pada akhirnya, saya  bisa menyeimbangkan kekuatan tumpuan tenaga pada kedua otot betis dan paha, mencoba menyempurnakan bentuk ‘A’ pada papan, dan meluncur ke bawah dengan sangat pelan. Saya berulangkali terhenti, namun akhirnya saya bisa meluncur tanpa jatuh sama sekali 🙂 .

Pyeongchang_international_students_ski_camp_2011

Dua hari kami berada di Alpensia. Saya belum puas karena belum bisa meluncurkan papan ski dengan baik, namun setidaknya saya pernah merasakan berulangkali jatuh hingga kembali mampu berdiri di atas kemiringan medan.  Semoga, begitulah kelak saya akan menjalani hidup, layaknya papan ski yang pernah saya luncurkan. Kita makhluk rapuh, tapi kita tahu bahwa jatuh merupakan pertanda dariNya bahwa kita akan menjadi semakin tangguh. Belajar bernegosiasi dengan resiko dan kembali kembali meluncurkan papan hidup kita.