Papan Luncur

Dulu, saya sempat menuliskan bahwa suatu saat saya ingin mencoba salah satu olahraga: Ski. Hingga akhirnya sebulan yang lalu dosen  Bahasa Korea kami menawarkan untuk mengikuti program khusus untuk mahasiswa asing di Alpensia, sebuah resort di Pyeongchang yang merupakan salah satu kota kandidat Winter Olympics 2018. Kemarin, kami mengikuti program tersebut.

Ketika papan ski terpasang di kedua kaki saya, saya susah bergerak karena berjalan dengan sepatu ski terasa berat dan melangkahkan kaki di atas papan ski pada medan miring ternyata  sangat licin. Meskipun seorang pelatih yang telaten telah membimbing kami, saat pertama kali mencoba meluncur di atas kemiringan, kebanyakan dari kami terjatuh. Awalnya, untuk bangun dari jatuh ini cukup sulit.

Saya mengangkat kedua kaki, saya luruskan,  saya tapakkan dan yang terjadi? saya tak bisa mengendalikan gaya gesek dalam papan, dan kembali meluncur tanpa bisa saya kendalikan dalam posisi duduk hingga saya menggesekkan punggung di atas salju. Ada nyeri yang tak bisa saya tahan di pergelangan kaki saat saya mencoba meluncur dengan posisi duduk. Akhirnya, saya berhenti dan melepas peralatan ski di kaki saya karena tak mampu berdiri di atas kemiringan. Saya berjalan kembali menuju dasar dan mengangkat sepasang papan dengan kedua tangan saya.

Meskipun lintasan masih yang kami lalui paling landai, ada beberapa mahasiswa yang mengalami cedera. Memang sangat beralasan mengapa kami harus membayar asuransi sebesar 20.000 KRW sebelum melakukan olahraga ini. Seorang mahasiswa Turki dikabarkan tangannya patah. Teman kami, Sara, mengalami joint displacement di lututnya. Dieky  juga mengalami cedera di jempol tangan setelah jatuh karena tak bisa mengendalikan kecepatan luncur. Insiden ini membuat kelompok kami sempat di-ban untuk kembali bermain.  Ketika kemudian larangan untuk kelompok kami dicabut dengan syarat diawasi oleh seorang pelatih, kami kembali mencoba meluncur.  Takut? Ya. Namun melihat semangat teman-teman lain untuk terus mencoba, saya kembali terpacu dan ikut menaiki cable car dan meluncur dari atas medan. Lagipula seorang teman kami, Yodha, telah bisa meluncur dengan kendali penuh. Si pelatih-telaten mendampingi kami meluncur ke bawah dengan lebih hati-hati.

Selanjutnya saya mencoba meluncur sendiri. Berkali-kali saya jatuh saat meluncur. Namun, saat itu, saya perhatikan bahwa saya telah mampu bangkit dengan jauh lebih mudah  di atas kemiringan medan. Saya kembali meluncur dan jatuh, berdiri lagi, demikian seterusnya. Hingga pada akhirnya, saya  bisa menyeimbangkan kekuatan tumpuan tenaga pada kedua otot betis dan paha, mencoba menyempurnakan bentuk ‘A’ pada papan, dan meluncur ke bawah dengan sangat pelan. Saya berulangkali terhenti, namun akhirnya saya bisa meluncur tanpa jatuh sama sekali🙂 .

Pyeongchang_international_students_ski_camp_2011

Dua hari kami berada di Alpensia. Saya belum puas karena belum bisa meluncurkan papan ski dengan baik, namun setidaknya saya pernah merasakan berulangkali jatuh hingga kembali mampu berdiri di atas kemiringan medan.  Semoga, begitulah kelak saya akan menjalani hidup, layaknya papan ski yang pernah saya luncurkan. Kita makhluk rapuh, tapi kita tahu bahwa jatuh merupakan pertanda dariNya bahwa kita akan menjadi semakin tangguh. Belajar bernegosiasi dengan resiko dan kembali kembali meluncurkan papan hidup kita.

4 thoughts on “Papan Luncur

      1. Blogwalking ke blognya temen2 bisa jadi sarana refreshing, sayang dari Ilkomerz42 udah banyak yang nggak lagi ngeblog😦 Btw aku suka style blogging nya, stylenya sama kaya orangnya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s