Fathoni's weblog

November 16, 2009

Unfamiliar Vocabularies from “Across The Universe”

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — fathoni.am @ 9:23 pm

Last weekend I watched the movie, and listed some unfamiliar English words from the script. So here’s the list, followed by the sentence used in the dialogue. It is recommended to use Stardict (www.stardict.org) to find the meaning of these words, since it’s free and have pretty much additional dictionaries.

Furlough
“They give you fourlough after boot camp”

Shovel, Furnace
“I’ll be shoveling coal in a furnace, mum”

Ashore
“You’ll be wearing them when you go ashore in America”

Seafaring
“If You wanted a seafaring life, couldn’t you have signed up for the Mersey
Ferry”

Supper
“At least you’d be home for your supper every night.”

Limey
“You sound like a limey”

Excuse
“You could excuse a bastard by saying that his dad was killed in the war”

Derail
“I didn’t come here to derail your life.”
Out of shape

“Shit! I’m out of shape.”
Bunking down

“I’m just bunking down here, you know, temporarily.”

Androgyny
“Androgyny suits you, Max”

Cut out
“I’m not cut out for this college crap”

Chucking
“You know, when do that lot start chucking plates at each other”

Dessert
“Dessert, yeah.”

Brawl
“He needs a bar, brawl or a hotel.”

Rush
“What’s the rush?”

Shudder
“I shudder to think how Max lives, or what’s he up to.”

Dubious
“He always attracts the most dubious people.”

Promiscuous, Dope
“He’s probably sorrounded by promiscuous dope fiends”

Exhilirating
“It’s exhilirating in a way”

Induction
“It says I have to report to an induction center on the 7th.”

Beets
“HE ate a ton of beets the night before the physical.”

Jab
“We could just jab his arm with a needke a few times.”

Twisted, bend
“You know, he’s so twisted. he’ll bend his way out of this fix”

Bugger
“I love the bugger.”

Exempt
“Well, I’d have been exempt as a shipyard worker”

Scuff up
“You’ll scuff up them shiny black boots”

Vain
“And I would be sad if our new love was in vain.”

Blissfull, throe
“But as blissful as you are in the throes of young love..”

transcend
“We gotta transcend the bullshit, and fast”

snarled up, dreary, hive.
“Let them get all snarled up in their dreary hive.”

knock, swing
“Never knock the way another cat swings”

Groove
“Hate to mess with your groove, New York!”
Tater

“We’re eating taters”

Frontier, transcend
“We’re pushing the frontiers of transcendental perception.”

Contortionist
“She’s a contortionist”

Shagger
“A Shagger, A Don Juan”

Exaggerate
“Don’t Exaggerate.”

Stank
“This guy got no soul and no stank.”

Slither
“They slither while they pass…”

November 9, 2009

Ngantor

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Tag: — fathoni.am @ 1:39 pm

Dua hari setelah wisuda, saya langsung masuk kantor. Hari pertama kerja, suasana antar staf terasa akrab. Hari itu saya berusaha mempelajari bahasa pemrograman ABAP keluaran SAP.

 

Pemrograman ABAP menuntut adanya koneksi ke server klien perusahaan. Otomatis, kami selalu bergantung kepada listrik dan koneksi ke internet saat bekerja. Jika koneksi lambat (ini sering terjadi pada salah satu klien), otomatis pekerjaan terganggu. Di sisi lain saya senang, kebutuhan koneksi kantor membuat kami bisa saja selalu online mengakses situs yang diinginkan. Namun, jika kami mengakses situs yang tidak berhubungan dengan pekerjaan (misalnya facebook atau youtube) , kami harus siap-siap mendapatkan peringatan.

 

Menurut ketentuan, jam kerja antara jam 9 pagi – jam 5 sore. Well, lumayan lah, nggak terlalu capek bekerja, saya pikir pada awalnya. Waktu berjalan, hari berganti. Ternyata dalam perjalanannya, pekerjaan yang kami lakukan berbasis deadline. Berarti jika ada task baru muncul, kami harus bisa mengerjakannya sebelum deadline. Hal ini mengakibatkan jam kerja tidak teratur, dan banyak yang mengerjakan task ini hingga malam hari. Banyak juga yang menginap kantor. Saya sendiri balik sampai di kosan antara jam 7-9.30 malam, dan menginap sesekali jika memang ada deadline. Pernah saya ditelpon oleh fungsional beberapa kali dan chatting dengan inti pertanyaan yang sama: “kapan kerjaan selesai?”

 

Dengan adanya deadline, saya merasa kurang leluasa bergerak. Disamping itu, tidak ada insentif untuk lembur atau bekerja di luar jam kerja. My job ain’t financially rewarding. Tapi penghargaan secara finansial tujuan utama saya di awal, karena memang belum ada tanggungan =) . Yang saya ingin tekankan disini adalah saat ini saya belum bisa menikmati pekerjaan dengan ritme kerja sedimikian (pergi pagi pulang malam). Ada beberapa hal yang ingin saya persiapkan untuk satu hingga dua tahun ke depan.

 

Saya sendiri masih ragu apakah saya akan terus menekuni SAP. Beberapa teman kerja juga mengungkapkan SAP bagus, namun saya masih belum yakin tentang hal ini. Bagaimana jika setelah 4 tahun (masa kontrak 4 tahun, jika nanti setekah 3 bulan loloa masa percobaan) tiba-tiba SAP tidak digunakan lagi? Beside, this is just not my thing, yet. Saya belum tertarik dengan SAP.

 

Beberapa hari yang lalu, saya ke rektorat IPB dengan Haryanto, yang sekarang menikmati pekerjaannya di pemrograman dotNET. Saya mulai menanyakan beberapa hal seperti mengapa fokus di dotNET? Bagaimana jika setelah beberapa tahun mendalami dotNET, tiba-tiba prospek dotNET meredup dan mati? Apa yang kamu cari di pekerjaan sekarang?

 

Ia menjawab, dari awal memang ia sudah sedikit mempelajari dotNET, tinggal mengembangkan. Lantas bagaimana jika dotNET meredup dan mati, apa yang akan ia dapatkan di perusahaan sekarang?

 

Perusahaan tempat hary bekerja mengimplementasikan OOP dalam kode-kodenya. Jika suatu saat dotNET meredup, ia akan mengimplementasikan konsep OOP yang telah ia pelajari di perusahaan tempat ia bekerja sekarang ke dalam bahasa pemrograman lain yang juga berorientasi objek.

 

Malam harinya saya mulai terpikir, mengapa saya tidak menanyakan hal yang sama kepada diri saya sendiri?
Bagaimana jika SAP meredup, apa yang akan saya lakukan jika setelah bertahun-tahun focus di SAP dan SAP adalah satu-satunya yang saya bisa? Pertanyaan ini belum terjawab.

 

Apa yang saya pelajari dari kantor tempat saya bekerja sekarang? Sementara jawaban saya adalah saya akan belajar untuk melakukan tugas sesuai deadline, bertahan di bawah tekanan, belajar dasar-dasar SAP, dan mungkin belajar menaklukkan stress. My old man said “Ini bagian dari proses pembelajaran kamu, berusahalah tetap bertahan” =).

Juli 14, 2009

Released: f4th 2.2

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Tag: — fathoni.am @ 4:14 pm

Finally, f4th 2.2 is released today. Many function implemented since the previous release, including swimming plug-in, stress handling module, and social media (id.wikipedia, wordpress, twitter) updating routine. This version is also experienced not only python-open-source project at-courage-making on joining OSS-projects for daluang development but also PIMNAS XXII. More interesting, the dream book database is created including its due date. The religious mode is already set on, although sometimes this religious mode is switched back to futur, or even STMJ mode. And with the help of brainwave entrainment sounds, this version is more stable at hibernation mode (which is usually happens at 10 PM till 4 AM).

However, a few bugs has been detected. This version has a very rough test on stress and depression handling due to serious error in assertiveness and communication. Hence, more time is needed to fix this function. The non-verbal communication recognition function is in progress, as well as juz amma memorizing, speed-reading module, and CS bachelor graduation plug-in. The fixes of this bug and implementation of these new functions is planned to be released f4th 2.2.01, at August 17, 2009.

Until next release, and we hope you enjoy this new version of f4th 2.2. Suggestion, feature request, and bug report is really appreciated. Send your comments via fathoni dot am at gmail dot com.

Juni 20, 2009

GTD Wallpaper

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Tag: — fathoni.am @ 4:53 pm

I got this wallpaper somewhere in flickr. I edited them a bit, and here it comes!

self-help-walpaper

self-help-walpaper

Mei 1, 2009

Tembang Padang Ilalang Gersang

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Tag: — fathoni.am @ 11:04 am

Ia sering menemui hal-hal kecil yang bisa memantik api, namun ia tak banyak berpikir tentang percikan kecil itu. Belum lama, api kecil itu membakar padang ilalang gersang dalam dirinya. Ia mencoba memadamkannya, namun, tak mudah. Ia bertanya-tanya, Api mana yang membuat sang padang gersang terbakar? Ia berusaha. Api itu mengecil, dan kini api itu telah padam, menyisakan rona keabuan yang kering kerontang, dan membuat padang ilalang hijau di sekelilingnya turut layu, serta menyisakan luka yang membentang, yang memberikan dampak pada padang hijau di sekelilingnya. Ia menyesal, tapi ia tahu, ia memperoleh pelajaran. Kembali ia bertanya, apakah suatu saat, tunas itu bisa tumbuh kembali? Apakah ia dapat menghijaukan padang layu yang ada di sekelilingnya?Ia hanya diam. Ia tak tahu. Ia berharap, pasukan hujan turun menghijaukan kembali tunas itu. Ia berharap waktu akan menyembuhkannya. Ia ingin melihat lagi, semilir angin membelai tunas-tunas yang tertawa riang, bercanda bebas tanpa jarak, tanpa semburat pucat layu seperti dulu. Yang pasti, ia akan mulai lebih waspada kini. Dan ia adalah aku.

Blog pada WordPress.com.