Dua hari setelah wisuda, saya langsung masuk kantor. Hari pertama kerja, suasana antar staf terasa akrab. Hari itu saya berusaha mempelajari bahasa pemrograman ABAP keluaran SAP.
Pemrograman ABAP menuntut adanya koneksi ke server klien perusahaan. Otomatis, kami selalu bergantung kepada listrik dan koneksi ke internet saat bekerja. Jika koneksi lambat (ini sering terjadi pada salah satu klien), otomatis pekerjaan terganggu. Di sisi lain saya senang, kebutuhan koneksi kantor membuat kami bisa saja selalu online mengakses situs yang diinginkan. Namun, jika kami mengakses situs yang tidak berhubungan dengan pekerjaan (misalnya facebook atau youtube) , kami harus siap-siap mendapatkan peringatan.
Menurut ketentuan, jam kerja antara jam 9 pagi – jam 5 sore. Well, lumayan lah, nggak terlalu capek bekerja, saya pikir pada awalnya. Waktu berjalan, hari berganti. Ternyata dalam perjalanannya, pekerjaan yang kami lakukan berbasis deadline. Berarti jika ada task baru muncul, kami harus bisa mengerjakannya sebelum deadline. Hal ini mengakibatkan jam kerja tidak teratur, dan banyak yang mengerjakan task ini hingga malam hari. Banyak juga yang menginap kantor. Saya sendiri balik sampai di kosan antara jam 7-9.30 malam, dan menginap sesekali jika memang ada deadline. Pernah saya ditelpon oleh fungsional beberapa kali dan chatting dengan inti pertanyaan yang sama: “kapan kerjaan selesai?”
Dengan adanya deadline, saya merasa kurang leluasa bergerak. Disamping itu, tidak ada insentif untuk lembur atau bekerja di luar jam kerja. My job ain’t financially rewarding. Tapi penghargaan secara finansial tujuan utama saya di awal, karena memang belum ada tanggungan =) . Yang saya ingin tekankan disini adalah saat ini saya belum bisa menikmati pekerjaan dengan ritme kerja sedimikian (pergi pagi pulang malam). Ada beberapa hal yang ingin saya persiapkan untuk satu hingga dua tahun ke depan.
Saya sendiri masih ragu apakah saya akan terus menekuni SAP. Beberapa teman kerja juga mengungkapkan SAP bagus, namun saya masih belum yakin tentang hal ini. Bagaimana jika setelah 4 tahun (masa kontrak 4 tahun, jika nanti setekah 3 bulan loloa masa percobaan) tiba-tiba SAP tidak digunakan lagi? Beside, this is just not my thing, yet. Saya belum tertarik dengan SAP.
Beberapa hari yang lalu, saya ke rektorat IPB dengan Haryanto, yang sekarang menikmati pekerjaannya di pemrograman dotNET. Saya mulai menanyakan beberapa hal seperti mengapa fokus di dotNET? Bagaimana jika setelah beberapa tahun mendalami dotNET, tiba-tiba prospek dotNET meredup dan mati? Apa yang kamu cari di pekerjaan sekarang?
Ia menjawab, dari awal memang ia sudah sedikit mempelajari dotNET, tinggal mengembangkan. Lantas bagaimana jika dotNET meredup dan mati, apa yang akan ia dapatkan di perusahaan sekarang?
Perusahaan tempat hary bekerja mengimplementasikan OOP dalam kode-kodenya. Jika suatu saat dotNET meredup, ia akan mengimplementasikan konsep OOP yang telah ia pelajari di perusahaan tempat ia bekerja sekarang ke dalam bahasa pemrograman lain yang juga berorientasi objek.
Malam harinya saya mulai terpikir, mengapa saya tidak menanyakan hal yang sama kepada diri saya sendiri?
Bagaimana jika SAP meredup, apa yang akan saya lakukan jika setelah bertahun-tahun focus di SAP dan SAP adalah satu-satunya yang saya bisa? Pertanyaan ini belum terjawab.
Apa yang saya pelajari dari kantor tempat saya bekerja sekarang? Sementara jawaban saya adalah saya akan belajar untuk melakukan tugas sesuai deadline, bertahan di bawah tekanan, belajar dasar-dasar SAP, dan mungkin belajar menaklukkan stress. My old man said “Ini bagian dari proses pembelajaran kamu, berusahalah tetap bertahan” =).
