Ia sering menemui hal-hal kecil yang bisa memantik api, namun ia tak banyak berpikir tentang percikan kecil itu. Belum lama, api kecil itu membakar padang ilalang gersang dalam dirinya. Ia mencoba memadamkannya, namun, tak mudah. Ia bertanya-tanya, Api mana yang membuat sang padang gersang terbakar? Ia berusaha. Api itu mengecil, dan kini api itu telah padam, menyisakan rona keabuan yang kering kerontang, dan membuat padang ilalang hijau di sekelilingnya turut layu, serta menyisakan luka yang membentang, yang memberikan dampak pada padang hijau di sekelilingnya. Ia menyesal, tapi ia tahu, ia memperoleh pelajaran. Kembali ia bertanya, apakah suatu saat, tunas itu bisa tumbuh kembali? Apakah ia dapat menghijaukan padang layu yang ada di sekelilingnya?Ia hanya diam. Ia tak tahu. Ia berharap, pasukan hujan turun menghijaukan kembali tunas itu. Ia berharap waktu akan menyembuhkannya. Ia ingin melihat lagi, semilir angin membelai tunas-tunas yang tertawa riang, bercanda bebas tanpa jarak, tanpa semburat pucat layu seperti dulu. Yang pasti, ia akan mulai lebih waspada kini. Dan ia adalah aku.
Mei 1, 2009
Belum Ada Tanggapan »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik